Original From : http://m-wali.blogspot.com/2011/12/cara-edit-template-blog-agar-seo.html#ixzz1hj3YVJod

SEMAKIN BANYAK TAHU SEMAKIN SUKSES SESEORANG!

SEMAKIN BANYAK TAHU SEMAKIN SUKSES SESEORANG!
Zero to Hero :D
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 April 2012

Inilah 10 Presiden Amerika Termuda



1. Theodore Roosevelt  Terpilih Umur  42   Tahun
Theodore Roosevelt, Jr. (lahir di New York City, di Gramercy, Manhattan, 27 Oktober 1858 – meninggal di Oyster Bay, New York, 6 Januari 1919 pada umur 60 tahun) adalah Presiden Amerika Serikat yang Ke-26 . Menjabat dua kali masa jabatan pada tahun 1901 hingga 1909 . Sebelum menjadi presiden Roosevelt adalah wakil presiden Amerika Serikat di bawah Presiden William McKinley
______________________________________________________________________________________________
2.  John F. Kennedy   Terpilih umur 43 Tahun
John Fitzgerald Kennedy (lahir di Brookline, Massachusetts, 29 Mei 1917 – meninggal di Dallas, Texas, Amerika Serikat, 22 November 1963 pada umur 46 tahun), sering disebut John F. Kennedy,  atau JFK adalah Presiden Amerika Serikat yang ke-35. Pada 1960, ia menjadi termuda yang dipilih menjadi Presiden Amerika Serikat dan termuda kedua setelah Theodore Roosevelt untuk jabatan presiden.
______________________________________________________________________________________________
3.  Bill Clinton   Terpilih Umur   46   Tahun
William Jefferson Clinton (lahir di Hope, Arkansas, 19 Agustus 1946  umur 65 tahun dengan nama William Jefferson Blythe III) adalah Presiden Amerika Serikat ke-42. Ia menjabat dua kali masa jabatan periode 20 Januari 1993 hingga 20 Januari 2001. Sebelum terpilih menjadi presiden, Clinton selama sekitar 12 tahun adalah Gubernur Arkansas yang ke-50 dan ke-52. Istrinya, Hillary Rodham Clinton, adalah Senator dari daerah pemilihan New York.  Clinton mendirikan yayasan William J. Clinton Foundation dan menjadi ketuanya.
______________________________________________________________________________________________
4.     Ulysses S. Grant    Terpilih Umur 46  Tahun
Ulysses S. Grant terlahir Hiram Ulysses Grant (lahir di Point Pleasant, Ohio, 27 April 1822 – meninggal di Mount McGregor, New York, 23 Juli 1885 pada umur 63 tahun) adalah seorang jenderal Amerika dan Presiden Amerika Serikat (1869–1877) yang ke-18. Ia menjabat presiden selama dua masa jabatan berturut-turut antara tahun 1869 hingga 1877
______________________________________________________________________________________________
5. Barack Obama   Terpilih Umur 47 Tahun
Barack Hussein Obama II ( lahir di Honolulu, Hawaii, 4 Agustus 1961  umur 50 tahun) adalah Presiden Amerika Serikat yang sekarang menjabat dan merupakan Presiden Amerika Serikat yang ke-44.  Barackmenjabat sejak 20 Januari 2009 menggantikan George Walker Bush. Sebelumnya ia merupakan Senator Junior dari Illinois dan kemudian menang dalam Pemilu Presiden 2008 pada 4 November 2008. Pada tahun 2009, Obama diumumkan sebagai pemenang anugerah Penghargaan Perdamaian Nobel karena mempromosikan diplomasi internasional untuk memecahkan masalah-masalah internasional.
______________________________________________________________________________________________
6.   Grover Cleveland Terpilih umur 47 Tahun
Stephen Grover Cleveland (lahir di Caldwell, New Jersey, 18 Maret 1837 – meninggal di Princeton, New Jersey, 24 Juni 1908 pada umur 71 tahun) adalah Presiden Amerika Serikat yang ke-22 (1885–1889) dan ke-24 (1893–1897)[2].  Ia adalah satu-satunya presiden yang menjabat dua kali secara tak berurutan. Ia juga merupakan satu-satunya Demokrat yang terpilih sebagai presiden pada masa ketika Partai Republik mendominasi politik antara 1860 dan 1912.
______________________________________________________________________________________________
7.     Franklin Pierce Terpilih Umur  48 Tahun
Franklin Pierce (lahir di Hillsborough, New Hampshire, 23 November 1804 – meninggal di Concord, New Hampshire, 8 Oktober 1869 pada umur 64 tahun) adalah politikus Amerika dan Presiden Amerika Serikat ke-14, menjabat pada 1853-1857. Pierce berasal dari Partai Demokrat dan didampingi oleh William R. King sebagai wakil presiden. Pada masa Presiden Franklin Pierce, Amerika sedang di ambang bahaya perpecahan perang saudara. Sejarah mencatat bahwa Franklin Pierce terpilih menjadi presiden dengan perbedaan tipis dari pesaingnya dengan harapan bahwa Franklin Pierce dapat meredam perang saudara.
______________________________________________________________________________________________
8. James Garfield  Terpilih Umur 49 Tahun
James Abram Garfield (lahir di Moreland Hills, Ohio, 19 November 1831 – meninggal di Elberon (Long Branch), New Jersey, 19 September 1881 pada umur 49 tahun) adalah seorang mayor jenderal Tentara Amerika Serikat, anggota Kongres Amerika Serikat, Presiden Amerika Serikat yang ke-20 . Dengan masa jabatan tahun 1881 selama empat bulan. Ia terbunuh pada masa jabatannya dan digantikan oleh wakilnya,Chester Arthur.
______________________________________________________________________________________________
9.  James K. Polk   Terpilih Umur  49 Tahun
James Knox Polk adalah presiden ke 11th  yang terpilih di United States pada tahun (1845–1849).  Polk yang di sebut namanya lahir Mecklenburg County, North Carolina, Ia merupakan presiden Termuda pada waktu terpilih.
______________________________________________________________________________________________
10.  Millard Fillmore  Terpilih pada umur   50  tahun

Millard Fillmore (lahir di Summerhill, New York, 7 Januari 1800 – meninggal di Buffalo, New York, 8 Maret 1874 pada umur 74 tahun) adalah Presiden Amerika Serikat ke-13, menjabat pada 1850-1853. Sebelumnya, ia menjabat menjadi wakil presiden Amerika Serikat. Ia menjadi presiden atas konstitusi Amerika, menggantikan Presiden Zachary Taylor yang wafat karena penyakit gastroenteritis yang akut. Millard Filmore menjabat tiga tahun, dari tahun 1850 hingga 1853. Ia adalah anggota Whig dan semasa menjabat menjadi presiden tidak didampingi oleh wakil presiden.

Mengupas Sejarah Pelacuran di Indonesia



Pelacuran telah terjadi sepanjang sejarah manusia. Namun menelusuri sejarah pelacuran di Indonesia dapat dirunut mulai dari masa kerajaan-kerajaan Jawa, di mana perdagangan perempuan di pada saat itu merupakan bagian pelengkap dari sistem pemerintahan feodal (Hull; 1997:1-22). Dua kerajaan yang sangat lama berkuasa di Jawa berdiri tahun 1755 ketika kerajaan Mataram terbagi dua menjadi Kesunanan Surakarta dan Kesultanana Yogyakarta. Mataram merupakan kerajaan Islam Jawa yang terletak di sebelah selatan Jawa Tengah.

Pada masa itu, konsep kekuasaan seorang raja digambarkan sebagai kekuasaan yang sifatnya agung dan mulia (binatara). Kekuasaan raja Mataram sangat besar. Mereka seringkali dianggap menguasai segalanya, tidak hanya tanah dan harta benda, tetapi juga nyawa hamba sahaya. Anggapan ini apabila dikaitkan dengan eksistensi perempuan saat ini mempunyai arti tersendiri.

Raja mempunyai kekuasaan penuh. Seluruh yang ada di atas Jawa, bumi dan seluruh kehidupannya, termasuk air, rumput, daun, dan segala sesuatunya adalah milik raja. Tugas raja pada saat itu adalah menetapkan hukum dan menegakkan keadilan; dan semua orang diharuskan mematuhinya tanpa terkecuali. Kekuasaan raja yang tak terbatas ini juga tercermin dari banyaknya selir yang dimilikinya. Beberapa orang selir tersebut adalah puteri bangsawan yang diserahkan kepada raja sebagai tanda kesetiaan.

Sebagian lagi merupakan persembahan dari kerajaan lain, ada juga selir yang berasal dari lingkungan keluarganya dengan maksud agar keluarga tersebut mempunyai keterkaitan dengan keluarga istana.

Sebagian selir raja ini dapat meningkat statusnya karena melahirkan anak-anak raja. Perempuan yang dijadikan selir tersebut berasal dari daerah tertentu yang terkenal banyak mempunyai perempuan cantik dan memikat. Reputasi daerah seperti ini masih merupakan legenda sampai saat ini. Koentjoro (1989:3) mengidentifikasi 11 kabupaten di Jawa yang dalam sejarah terkenal sebagai pemasok perempuan untuk kerajaan; dan sampai sekarang daerah tersebut masih terkenal sebagai sumber wanita pelacur untuk daerah kota.

Daerah-daerah tersebut adalah Kabupaten Indramayu, Karawang, dan Kuningan di Jawa Barat; Pati, Jepara, Grobogan dan Wonogiri di Jawa Tengah; serta Blitar, Malang, Banyuwangi dan Lamongan di Jawa Timur. Kecamatan Gabus Wetan di Indramayu terkenal sebagai sumber pelacur; dan menurut sejarah daerah ini merupakan salah satu sumber perempuan muda untuk dikirim ke istana Sultan Cirebon sebagai selir. (Hull, at al. 1997:2).

Makin banyaknya selir yang dipelihara, menurut Hull, at al. (1997:2) bertambah kuat posisi raja di mata masyarakat. Dari sisi ketangguhan fisik, mengambil banyak selir berarti mempercepat proses reproduksi kekuasaan para raja dan membuktikan adanya kejayaan spiritual. Hanya raja dan kaum bangsawan dalam masyarakat yang mempunyai selir. Mempersembahkan saudara atau anak perempuan kepada bupati atau pejabat tinggi merupakan tindakan yang didorong oleh hasrat untuk memperbesar dan memperluas kekuasaan, seperti tercermin dari tindakan untuk memperbanyak selir. Tindakan ini mencerminkan dukungan politik dan keagungan serta kekuasaan raja. Oleh karena itu, status perempuan pada zaman kerajaan Mataram adalah sebagai upeti (barang antaran) dan sebagai selir.

Perlakuan terhadap perempuan sebagai barang dagangan tidak terbatas hanya di Jawa, kenyataan juga terjadi di seluruh Asia, di mana perbudakan, sistem perhambaan dan pengabdian seumur hidup merupakan hal yang biasa dijumpai dalam sistem feodal. Di Bali misalnya, seorang janda dari kasta rendah tanpa adanya dukungan yang kuat dari keluarga, secara otomatis menjadi milik raja. Jika raja memutuskan tidak mengambil dan memasukkan dalam lingkungan istana, maka dia akan dikirim ke luar kota untuk menjadi pelacur. Sebagian dari penghasilannya harus diserahkan kepada raja secara teratur (ENI, dalam Hull; 1997:3).

Bentuk industri seks yang lebih terorganisasi berkembang pesat pada periode penjajahan Belanda (Hull; 1997:3). Kondisi tersebut terlihat dengan adanya sistem perbudakan tradisional dan perseliran yang dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan seks masyarakat Eropa. Umumnya, aktivitas ini berkembang di daerah-daerah sekitar pelabuhan di Nusantara. Pemuasan seks untuk para serdadu, pedagang, dan para utusan menjadi isu utama dalam pembentukan budaya asing yang masuk ke Nusantara.

Dari semula, isu tersebut telah menimbulkan banyak dilema bagi penduduk pribumi dan non-pribumi. Dari satu sisi, banyaknya lelaki bujangan yang dibawa pengusaha atau dikirim oleh pemerintah kolonial untuk datang ke Indonesia, telah menyebabkan adanya permintaan pelayanan seks ini. Kondisi tersebut ditunjang pula oleh masyarakat yang menjadikan aktivitas memang tersedia, terutama karena banyak keluarga pribumi yang menjual anak perempuannya untuk mendapatkan imbalan materi dari para pelanggan baru (para lelaki bujangan) tersebut. Pada sisi lain, baik penduduk pribumi maupun masyarakat kolonial menganggap berbahaya mempunyai hubungan antar ras yang tidak menentu.

Perkimpoian antar ras umumnya ditentang atau dilarang, dan perseliran antar ras juga tidak diperkenankan. Akibatnya hubungan antar ras ini biasanya dilaksanakan secara diam-diam. Dalam hal ini, hubungan gelap (sebagai suami-istri tapi tidak resmi) dan hubungan yang hanya dilandasi dengan motivasi komersil merupakan pilihan yang tersedia bagi para lelaki Eropa. Perilaku kehidupan seperti ini tampaknya tidak mengganggu nilai-nilai sosial pada saat itu dan dibiarkan saja oleh para pemimpin mereka. (Hull; 1997:4).

Situasi pada masa kolonial tersebut membuat sakit hati para perempuan Indonesia, karena telah menempatkan mereka pada posisi yang tidak menguntungkan secara hukum, tidak diterima secara baik dalam masyarakat, dan dirugikan dari segi kesejahteraan individu dan sosial. Maka sekitar tahun 1600-an, pemerintah mengeluarkan peraturan yang melarang keluarga pemeluk agama Kristen mempekerjakan wanita pribumi sebagai pembantu rumah tangga dan melarang setiap orang mengundang perempuan baik-baik untuk berzinah. Peraturan tersebut tidak menjelaskan apa dan mana yang dimaksud dengan perempuan “baik-baik”.

Pada tahun 1650, “panti perbaikan perempuan” (house of correction for women) didirikan dengan maksud untuk merehabilitasi para perempuan yang bekerja sebagai pemuas kebutuhan seks orang-orang Eropa dan melindungi mereka dari kecaman masyarakat. Seratus enam belas tahun kemudian, peraturan yang melarang perempuan penghibur memasuki pelabuhan “tanpa izin” menunjukkan kegagalan pelaksanaan rehabilitasi dan juga sifat toleransi komersialisasi seks pada saat itu (ENOI, dalam Hull; 1997:5).

Tahun 1852, pemerintah mengeluarkan peraturan baru yang menyetujui komersialisasi industri seks tetapi dengana serangkaian aturan untuk menghindari tindakan kejahatan yang timbul akibat aktivitas prostitusi ini. Kerangka hukum tersebut masih berlaku hingga sekarang. Meskipun istilah-istilah yang digunakan berbeda, tetapi hal itu telah memberikan kontribusi bagi penelaahan industri seks yang berkaitan dengan karakteristik dan dialek yang digunakan saat ini. Apa yang dikenal dengan wanita tuna susila (WTS) sekarang ini, pada waktu itu disebut sebagai “wanita publik” menurut peraturan yang dikeluarkan tahun 1852.

Dalam peraturan tersebut, wanita publik diawasi secara langsung dan secara ketat oleh polisi (pasal 2). Semua wanita publik yang terdaftar diwajibkan memiliki kartu kesehatan dan secara rutin (setiap minggu) menjalani pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi adanya penyakit syphilis atau penyakit kelamin lainnya (pasal 8, 9, 10, 11).

Jika seorang perempuan ternyata berpenyakit kelamin, perempuan tersebut harus segera menghentikan praktiknya dan harus diasingkan dalam suatu lembaga (inrigting voor zieke publieke vrouwen) yang didirikan khusus untuk menangani perempuan berpenyakit tersebut. Untuk memudahkan polisi dalam menangani industri seks, para wanita publik tersebut dianjurkan sedapat mungkin melakukan aktivitasnya di rumah bordil.

Sayangnya peraturan perundangan yang dikeluarkan tersebut membingungkan banyak kalangan pelaku di industri seks, termasuk juga membingungkan pemerintah. Untuk itu pada tahun 1858 disusun penjelasan berkaitan dengan peraturan tersebut dengan maksud untuk menegaskan bahwa peraturan tahun 1852 tidak diartikan sebagai pengakuan bordil sebagai lembaga komersil. Sebaliknya rumah pelacuran diidentifikasikan sebagai tempat konsultasi medis untuk membatasi dampak negatif adanya pelacuran. Meskipun perbedaan antara pengakuan dan persetujuan sangat jelas bagi aparat pemerintah, tapi tidak cukup jelas bagi masyarakat umum dan wanita publik itu sendiri. 


Selasih Seleguri, Novelis Perempuan Pertama di Indonesia




Kebanyakan generasi muda Urang Talu – apalagi yang remajanya — boleh jadi tak pernah menyangka kalau kampungnya yang berada di lembah Gunung Talamau dan dikelilingi bebukitan itu , pernah melahirkan tokoh atau pejuang bertaraf nasional. Banyak Rang Talu tak pernah mengenal siapa itu Sariamin, siapa itu Selasih atau Seleguri, dan apa itu Kalau Tak Untung. Apalagi — konon — di sekolah-sekolah, baik di tingkat SMP maupun SMA (era sekarang), baik dalam pelajaran bahasa atau kesusastraan, nama beliau sudah tak pernah disebut-sebut lagi. Maka jangan heran kalau anak-anak sekarnag juga tak pernah tahu bahwa wanita pengarang novel pertama di Indonesia adalah berasal dari kampung kecil mereka, Talu.

Untuk itulah, kali ini Yo Rang Talu.Net mencoba mengangkat kembali sosok ibunda Sariamin, seorang sastrawan perempuan sekaligus pejuang yang telah mengharumkan negeri kecil bernama Talu di tingkat nasional.

Menurut literatur Wikipedia Bahasa Indonesia, pada biodatanya disebutkan Sariamin lahir pada tanggal 9 Juli 1909 di Talu, (sekarang Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat), Sumatera Barat, dengan nama Basariah. Namun menurut Korrie Layun Rampan, seorang wartawan senior dan juga budayawan, dalam satu tulisannya Selasih : Wanita Novelis Indonesia Pertama menyebutkan bahwa Sariamin Ismail ini lahir tanggal 31 Juli pada tahun yang sama di Talu, Kecamatan Talamau, Pasaman, Sumbar. Agaknya tak begitu penting soal perbedaan tanggal itu , pastinya kedua-duanya menyebutkan beliau lahir pada bulan dan tahun yang sama, yakni Juli 1909, di Talu. Lebih dari itu Wikipedia Bahasa Indonesia — ensklopedia bebas itu — juga tak menjelaskan kenapa dan bagaimana nama Basariah itu kemudian berganti menjadi Sariamin.

Memang tak banyak data atau cerita yang diperoleh tentang bagaimana masa kecil Basariah yang kemudian berganti nama Sariamin. Apalagi kawan-kawan seumuran beliau yang mungkin bisa dijadikan nara sumber juga sudah tidak ada lagi.Tapi yang jelas setelah menamatkan Sekolah Dasar kelas V (Gouvernement School), Sariamin melanjutkan ke sekolah guru (Meisjes Normaal School), yang dulu mungkin sama dengan SGA (Sekolah Guru Atas) yang kemudian berubah menjadi SPG (Sekolah Pendidikan Guru).

Setamat sekolah guru tahun 1925, Sariamin betul-betul mengabdikan dirinya di dunia pendidikan. Dan demi pengabdian itu pulalah ia tak sungkan-sungkan sekalipun pada tahun itu juga ditugaskan untuk mengajar di Bengkulu. Tak cuma sekedar guru, ia kemudian diangkat jadi Kepala Sekolah. Lima tahun kemudian, Sariamin dipindahkan ke Matur, Padangpanjang, lalu ke Lubuk Sikaping (sekarang Ibu Kota Kab. Pasaman), dan seterusnya ke Bukittinggi, hingga tahun 1939. Setelah itu ia ditugaskan pula ke Aceh selama 2 tahun. Dan sejak tahun 1941 beliau lebih banyak mengabdikan dirinya sebagai pendidik di Riau, seperti Kuantan, Pekanbaru, dan Tanjung Pinang, setidaknya sampai tahun 1968. Di sini ia juga sempat terjun ke politik sehinga terpilih jadi anggota DPRD Propinsi Riau priode 1947 – 1948.

***

Sariamin tak cuma punya jiwa mendidik. Ternyata dalam dirinya juga mengalir darah seni. Selama tinggal di Riau itu beliau terus bermetamorfosa. Ia mengaktualisasikan diri pada seni peran ; dimana Sariamin sering ikut main sandiwara berkeliling di daerah Kuantan, Pekanbaru dan Tanjung Pinang. Sesuai dengan profesinya yang seorang guru, maka sandiwara yang dimainkannya pun selalu bertemakan pendidikan.

Tak hanya seni peran, menjadi sorang pujangga rupanya juga sudah menjadi mimpi Sariamin. Agaknya baginya mimpi itu bukanlah tak beralasan, sebab ia merasa mempunyai bakat menulis yang kuat. Terbukti kemudian, kepujanggaannya inilah yang telah melambungkan namanya ke pentas nasional. Dari Wikipedia Bahasa Indonesia, diketahui bahwa untuk mewujutkan mimpinya itu, Sariamin sudah mulai menulis sejak berumur 16 tahun. Tapi menurut Korrie Layun Rampan, budayawan Darman Moenir pernah menulis di majalah sastra Horison no 11, Thn XXI, Edisi November 1986, bahwa Sariamin dalam suatu ceramah sastra yang diadakan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 17 September 1986, menjelaskan ia mulai menulis bulan Mei 1926 ketika menjadi guru di Matur. Ketika itu, Siti Noor Mariah Naro yang bekas gurunya memaksa dirinya supaya menulis di majalah Asyara yang terbit di Padang. Majalah milik Persatuan Guru Perempuan yang juga dipimpin oleh Rustam Effendi dan Rasjid Manggis ini banyak mendorong bakat-bakat baru untuk tampil memberikan gagasan-gagasan yang inovatif. Maka lahir tulisan pertama Sariamin dalam majalah ini dengan judul “Perlukah Anak Perempuan Bersekolah?”

Diantara beberapa tempat- tempat tugas nya, bakat menulis Sariamin lebih berkembang setelah ia pindah ke Lubuk Sikaping, pada tahun 1927. Di daerah yang dingin dan diapit bebukitan ini membuat ia lebih inspiratif. Apalagi, katanya, di sini ia banyak memperoleh bacaan-bacaan yang semakin mendorongnya untuk menulis. Dan di Lubuk Sikaping ini pula beliau bertemu dengan Abdul Latif yang memperkenalkan dirinya dengan majalah Sari Pusaka, Panji Pustaka dan Bintang Hindia.

Dari Lubuksikaping, Sariamin kemudian dimutasi lagi ke kota Bukittinggi. Di Kota Jam Gadang yang lebih dingin ini, Sariamin mengaku cakrawala wawasannya semakin luas berkat beberapa suratkabar seperti; Suratkabar Persaman, Sinar Sumatera dan Sumatera Bond. Pada beberapa suratkabar inilah Sariamin terus mengembangkan bakat menulisnya, baik dibidang sastra, seni budaya, pendidikan, bahkan politik.

Pada zaman penjajahan, untuk menjadi seorang penulis bukanlah soal yang mudah. Karena selain bentuk karya tulis dibatasi, setiap penulisnya juga harus mempertanggungjawabkan hasil tulisannya di hadapan penjajah. Sementara saat itu — selain sebagai penulis — rupanya Sariamin juga aktif sebagai anggota organisasi politik seperti; organisasi Indonesia Muda, Gerakan Ingin Merdeka, bahkan ia sempat menjadi - Ketua Jong Islamieten Bond Dames Afdeling Cabang Bukitttingi tahun 1928 -1930. Karena itulah Sariamin selalu berada dibawah ancaman, takut kalau-kalau ditemukan bukti bahwa tulisannya melawan rezim penjajah. Ia tidak ingin mengalami nasib seperti teman-teman seperjuangannya seperti Aziz Chan, Alwi Luwis, Djafar Djambek, yang bergerak dibawah tanah kemudian bernasib malang di ujung bedil penjajah, atau mendekam di jeruji besi. Tapi Sariamin tetap ingin jadi penulis sakaligus pejuang untuk kemerdekan tanah airnya. Untuk itu Sariamin mensiasatinya dengan menggunakan sejumlah nama samaran untuk karya tulisnya.

Beberapa nama samarannya itu adalah; Sekejut Gelingging ( sekejut agaknya adalah sejenis tanaman yang bahasa Talunya Sikojuik), Dahlia, Seri Tanjung, Seri Gunung, Bunda Kandung, Sen Gunting, Ibu Sejati, Mande Rubiah, Selasih, Saleguri, atau digabung Selasih Seleguri.
***
NAMA samaran Selasih ditemukan ibu Sariamin tahun 1932 ketika ia berehasil merampungkan novelnya Kalau Tak Untung. Semula Sariamin bingung dengan nama samaran apa novel itu akan diterbitkan. Sedangkan sejumlah nama samaran di atas sudah sering digunakannya, kecuali Selasih. Diantaranya seperti Ibu Sejati dan Saleguri sudah dikenal sebagai penulis yang menentang pemerintah kolonial Belanda. Setelah menimbang-nimbang sejumlah nama samaran, akhirnya Sariamin menumakan nama Selasih untuk novel Kalau Tak Untung itu. Nama Selasih itu juga diambilnya dari salah satu jenis tanaman kecil yang banyak tumbuh di kampung halamannya, Talu.

Maka, tahun 1933 terbitlah novel Kalau Tak Untung itu dengan nama samaran penulisnya Selasih. Tak tanggung-tanggung, novel itu diterbitkan oleh Balai Pustaka yang bagi Sariamin merupakan penerbit kebanggaan tersendiri saat itu. Dan yang membuat Sariamin lebih bangga lagi; setelah diluncurkan ternyata novel itu — istilah sekarang — menjadi best seller. Bahkan ketika itu Aman Datuk Madjoindo yang juga pengarang dalam siaran radionya berkomentar, bahwa telah lahir pujangga putri pertama di Hindia Belanda. Bukan hanya itu, pengarang Armeijn Pane dan Kasoema Datuk Pamuntjak juga sepakat untuk menobatkan Selasih sebagai pioner bagi kaum perempuan dalam penulisan novel. Malah pengarang lainnya tak sungkan-sungkan menyatakan bahwa Selasih adalah pengarang novel perempuan pertama di Indonesia.
Dan Selasih itu adalah Selaguri, Selasih Selaguri itu adalah Sariamin… Dan Sariamin itu adalah Urang Talu.....


10 Keputusan Politik Dunia Yang Mengerikan Abad Ini



10. Pemboman Hiroshima dan Nagasaki 
Meskipun Harry Truman berada di bawah tekanan yang ekstrim untuk mengakhiri perang dan mengurangi korban di pihak Amerika saya pikir keputusannya untuk menjatuhkan dua bom atom pada tanggal 6 Agustus dan, 9 Agustus 1945 adalah salah. Karena Orang Jepang sudah dikalahkan. Menurut Jendral Angkatan Udara Henry H. (Hap) Arnold, "Sudah jelas bagi kami,ada bom atom atau tidak ada bom atom, Jepang sudah berada di ambang kehancuran." Presiden Eisenhower menyatakan dalam sebuah wawancara dengan Newsweek: "...Kala itu Jepang sudah siap untuk menyerah dan tidak perlu untuk memukul mereka dengan hal yang mengerikan. " 

9. Elit dalam tubuh Partai Demokrat 
Gerakan yang buruk,Pada tahun 1960-an dan awal 1970-an golngan kelas atas mengambil alih Partai Demokrat AS. Sejak itu Partai Demokrat AS jarang memenangkan pemilu, tidak peduli seberapa bodoh Partai Republik (lawannya) berperilaku konyol atau membuat kesalahan. Tragisnya beberapa orang berpikir Partai Demokrat baru dari golongan elit ini akan menjadi lebih pro-perdamaian. Kenyataannya Partai Demokrat dari golongan elit ini lebih menyukai perang dari sebelumnya, hanya sekarang perangnya lebih berorientasi pada tujuan kemajuan bisnis . contohnya infasi pada negeri - negeri kaya minyak ..

8. Perang Vietnam 
Jenderal MacArthur mengatakan bahwa setiap sekretaris pertahanan yang menyarankan presiden untuk berperang di tanah Asia harus diperiksa otaknya. Sayangnya itulah saran dari Menteri Pertahanan Robert McNamara kepada Presiden Johnson, sehingga dikirimlah puluhan ribu pasukan pada pertengahan 1960-an ke Vietnam. 
Tidak ada oposisi domestik yang diijinkan di Vietnam kala itu sehingga pemerintah tidak perlu khawatir tentang opini publik. Pemberontak Vietnam memiliki populasi besar dan dapat bersembunyi dari senjata Amerika di hutannya yang lebat. 
Sebaliknya,Media Amerika Serikat sering mengkritik perang ini. Rakyat Amerika tidak suka jumlah korban yang tinggi, terutama dengan cara perang tak berkesudahan di seluruh dunia. 

7. Perang Irak 
Komisi 9/11 yang diketuai oleh Partai Republik Tom Kean menyimpulkan bahwa Saddam Hussein tidak membantu Al-Qaeda dalam serangan 9/11.
Kelompok Survei untuk Irak menyimpulkan bahwa Saddam Hussein tidak memiliki senjata pemusnah massal setelah 1991. Jadi, mengapa begitu banyak orang mati di tahun 2003 untuk Perang Irak? dan Mengapa menghabiskan anggaran biaya yang besar? 

6. Negara Israel 
Setelah Perang Dunia II, banyak orang Yahudi melarikan diri dan dianjurkan untuk pindah ke Palestina dan mendirikan negara baru Israel, sehingga pertentangan satu set baru besar orang - masyarakat Muslim yang kini berjumlah sekitar 1/5 dari penduduk dunia. 
Muslim sampai sekarang sudah sangat anti-Yahudi, tapi setelah kaum Zionis membantai desa dan memaksa penduduk asli untuk mengungsi, Muslim berbalik melawan orang Yahudi. Bukankah akan lebih baik untuk bangsa Yahudi bermigrasi ke negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa nasionalnya ...

5. Serangan Jepang terhadap Pearl Harbor 
7 Desember 1941 serangan Jepang terhadap Pearl Harbor adalah ambisi kegilaan. Apalagi yang mengejutkan adalah bahwa Laksamana Yamamoto, yang merencanakan serangan itu, tahu betul Jepang tak mungkin memenangkan perang berkepanjangan melawan Amerika Serikat.
AS memiliki populasi jauh lebih besar dan kekuatan industri jauh lebih unggul dari Jepang kala itu. 

4. Mao Dibiarkan Berkuasa
Kalau saja keputusan telah dibuat untuk menghapus Mao dari kekuasaan!Rakyat China yang mengalami penderitaan panjang akan mengalami Lompatan Jauh ke Depan (sebenarnya Mundur), Kelaparan Besar dari 1958-1962, dan Revolusi Kebudayaan. 
Salah satu dari ide cemerlang Mao selama Lompatan Jauh ke Depan: rencananya untuk memusnahkan burung pipit. Dia pikir burung - burung kecil di ladang mengkonsumsi sebagian besar butir padi / gandum dan dalam kenyataannya mereka juga banyak memakan serangga. Dengan punahnya burung-burung kecil, populasi belalang meledak, menyebabkan kerusakan ekologi yang sangat besar. 

3. Inggris menjamin Polandia 
Winston Churchill seharusnya tidak pernah mengeluarkan jaminan ke Polandia pada tahun 1939, sehingga menyebabkan perang ketika Jerman menginvasi Polandia. 
Sebagai diplomat Amerika terhormat dan sejarawan George Kennan menulis: "jaminan Inggris ke Polandia ... adalah tidak perlu dan tidak bijaksana." Inggris dan Perancis tidak memiliki kekuatan untuk menyelamatkan Polandia dari Jerman.
Jaminan bodoh Churchill hanya menguntungkan Stalin, yang senang melihat Jerman, Perancis, dan Inggris menghancurkan satu sama lain. 
Stalin telah membunuh jutaan rakyatnya sendiri dalam sistem yang luas dari kamp penjara dan kelaparan yang direkayasa dari 1932-1933 (Holodomor). 
Churchill saya pikir harus dipilih sebagai pengambil keputusan tunggal yang terburuk abad ini. 
Sebagai Pemimpin Pertama Angkatan Laut dia penuh semangat memukul genderang perang saat Inggris masih merenungkan untuk apa ikut Perang Dunia I. 
Churchill juga patut disalahkan atas bencana pada kampanye Gallipoli. Churchill sebagai menteri keuangan mengawasi kembalinya bencana Inggris ke standar emas, yang membuat ekonomi Inggris memasuki masa Depresi Besar. 

2. Perjanjian Versailles 
Perdana Menteri Clemenceau mungkin pantas menyalahkan pada Perjanjian Versailles yang penuh dendam (ditandatangani 1919) meskipun beberapa rekannya menganggapnya terlalu murah hati. 
Meskipun janji dibuat untuk Pemerintahan Pusat, wilayah dibagi-bagi oleh para pemenang terlepas dari keinginan . 
Jerman dibebani dengan pembayaran ganti rugi besar,yang tidak mungkin terbayar. 
Ekonom John Maynard Keynes menulis tentang keputusan ini: "Saya percaya bahwa kampanye untuk mengamankan Jerman dari biaya umum perang adalah salah satu tindakan yang paling serius dari politik yang tidak bijaksana yang negarawan kita sudah pernah bertanggung jawab." tidak adil untuk memaksa Kekuasaan Tengah untuk menerima tanggung jawab untuk semua biaya perang. 
Keynes menyimpulkan bahwa perjanjian Versailles adalah “Carthaginian peace” pembalasan Versailles menabur benih untuk Perang Dunia II . 

1. Keterlibatan Inggris dalam Perang Dunia I 
Pada tahun 1914 Perdana Menteri Asquith dan Menteri Luar Negeri Sir Edward Grey memutuskan untuk melibatkan Inggris dalam Perang Dunia I, meskipun sebenarnya Perancis dan Rusialah yang mengancam Kerajaan Inggris (bukan Jerman). 
Kebijakan Inggris menyerukan aliansi melawan kekuatan kontinental yang paling tangguh, tetapi jangka panjang adalah Jerman saja sehingga sangat unggul untuk Prancis dan Rusia? 
Jika Inggris tidak mengirim pasukannya, mungkin perang akan berakhir dalam satu tahun.dan Eropa akan luput dari salah satu mimpi buruk terbesar - jutaan yang meninggal karena senapan mesin, meriam, penyakit, gas beracun, dan kelaparan. 
Munculnya kaum Bolshevik di Rusia, dengan semua penderitaan yang menyertainya, dan kekejaman Perang Dunia II juga akan bisa dihindari. 
Tidak ada Perang Besar dan hanya akanterjadi Perang yang relatif kecil dari 1914, dan Eropa tidak akan pernah turun ke kedalaman keputusasaan dan dekadensi dari mana mereka masih belum sepenuhnya pulih.
Adeyusf" target="_blank title="Follow Me on Twitter">